BELAJAR HIPNOTIS PRIVAT CEPAT MURAH!

Hypnoterapi menjadi trend penyembuhan berbagai penyakit mental dan fisik yang diterapkan sejak zaman dahulu.
Hipnosis dilakukan untuk membawa seseorang memasuki kondisi relaksasi agar bisa mengakses pikiran bawah sadarnya untuk kemudian diberikan sugesti positif.
Banyak orang yang memiliki ketakutan terhadap hipnoterapi karena pertunjukan-pertunjukan yang disiarkan di TV dimana kita tampak tidak sadar dengan apa yang kita ucapkan.
Tujuan Hypnoterapi adalah membantu mengatasi masalah. Bayangkan jika Anda mampu menjadi Hypnoterapis bersertifikat dengan hanya 1 x pelatihan. Dalam HITUNGAN JAM!


MANFAAT:
• Dapat menerapi diri sendiri untuk menghilangkan stress, trauma, diet dll
• Meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan diri sendiri sehingga mampu dengan mudah berkomunikasi dengan orang lain (pasangan, anak, keluarga, pelanggan, klien, dll)
• Dapat menambah penghasilan dengan keterampilan menerapi orang lain
• Mengatasi insomnia
• Meningkatkan rasa percaya diri
• Menyembuhkan Phobia
• Membebaskan diri dari rasa grogi ketika melakukan presentasi
• Stress karena terlalu banyak pikiran
• Mengalami depresi
• Bangkit dari kesedihan yang mendalam
• Mengendalikan emosi atau amarah yang berlebihan baik terhadap anak atau pasangan
• Menetralisir rasa sakit hati
• Membantu menghancurkan mental block dll.
PELATIHAN PRIVATE
Fasilitas Pelatihan:
• Sertifikat Resmi IBH (The Indonesian Board of Hypnotherapy) dan Sertifikat Hipntis dari MindPower Indonesia
• Kartu Anggota IBH
• Hard Copy Materi dari IBH

Info dan pendaftaran hubungi:
081228042188

Waspada Jadi Bagian dari Generasi O

CNN Indonesia | Senin, 12/11/2018 08:25 WIB
Waspada Jadi Bagian dari Generasi OIlustrasi bekerja (Bench Accounting via StockSnap)

Jakarta, CNN Indonesia — Generasi milenial kini dibayang-bayangi menjadi bagian dari generasi O. Istilah generasi O digunakan untuk menyebut orang-orang yang overworked atau terlalu banyak bekerja, overwhelmed atau terlalu kewalahan, dan overeating atau makan berlebih. Generasi ini berisiko terkena penyakit yang mematikan.

Penelitian terbaru dari Sun Life Asia Health Index menunjukkan, orang dengan usia produktif yang didominasi generasi milenial di Indonesia banyak menjadi bagian dari generasi O.

“Ada kecenderungan munculnya generasi muda yang overworked, overwhelmed, overeating yang tentunya tidak menerapkan gaya hidup sehat,” kata Chief Marketing Officer Sun Life Financial Indonesia Shierly Ge saat memarparkan hasil penelitian itu di Jakarta, Kamis (10/9).

Shierly menjelaskan, generasi O berakibat pada penerapan gaya hidup tidak sehat seperti tidak berolahraga, kurang tidur, dan makan makanan yang tidak bergizi.

Hal ini dibuktikan dengan hasil survei yang menemukan sebanyak 51 persen usia produktif tidak berolahraga, 34 persen tidur kurang dari 6 jam, dan 32 persen konsumsi makanan yang tidak bergizi.

Bukan tanpa alasan usia produktif itu melupakan hidup sehat. Studi ini mendapati sebesar 44 persen kendala utama didorong oleh tuntutan pekerjaan yang berlebih, hingga tak mampu menjalani gaya hidup sehat.

“Secara spesifik tidak ada jenis pekerjaan tertentu. Tapi karena tuntutan kerja, deadline, lembur, hidup sehat terabaikan,” ucap Shierly.

Selain tekanan pekerjaan, sebanyak 36 persen terkendala distraksi atau gangguan. Shierly menyebut, gangguan itu bisa datang dari berbagai macam hal yang mayoritas merupakan kebutuhan hiburan seperti ajakan makan, nonton, dan sebagainya.

Kendala lainnya adalah biaya hidup sehat yang dianggap mahal. Shierly menuturkan, kendala biaya ini berasal dari biaya pusat kebugaran dan makan-makanan sehat.

Gaya hidup generasi O yang tidak sehat ini meningkatkan risiko berbagai jenis penyakit yang mematikan. Shierly menyebut generasi O dalam jangka panjang dapat mengalami obesitas, diabetes melitus tipe 2, tekanan darah tinggi, stroke, dan penyakit kardiovaskular.

Penelitian ini dilakukan dengan metode survei di delapan negara Asia dengan responden masing-masing 600 orang usia produktif. Di Indonesia, survey dilakukan di tiga kota besar yakni Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Sementara itu pengamat gaya hidup, Dwi Sutarjantono menilai, gaya hidup generasi O dipicu oleh perkembangan teknologi dan media sosial. Menurutnya, dunia maya membuat orang berlomba mengejar kebahagiaan semu.

“Beban hidup generasi sekarang itu dari internet. Orientasinya ingin seperti si A, atau relationship goal misalnya. Akibatnya, ingin menghasilkan duit lebih banyak termasuk dengan overworked,” kata Dwi mengomentari fenomena generasi O. (ptj/asr)

Dwi Sutarjantono & Gaya Hidup Milenial

Awas, Ini Gaya Hidup Tidak Sehat Di Kalangan Generasi O

9 Nov 2018, 18:00
Awas, Ini Gaya Hidup Tidak Sehat Di Kalangan Generasi O

Perubahan generasi diiringi dengan perubahan teknologi. Di masa sekarang, teknologi yang semakin canggih memberikan kemudahan dalam menjalani hidup. Sayangnya, teknologi juga memberikan efek buruk bagi kehidupan.

Saat dijumpai dalam acara konferensi pers Sun Life Financial tentang Live Healthier Livespada hari Kamis (8/11/2018), Dwi Sutarjantono, pengamat gaya hidup, mengatakan, “Saat ini teknologi mengubah pola hidup dan tantangan yang dihadapi generasi saat ini, yang bahkan tidak ditemukan pada generasi sebelumnya.”

Menurutnya, persaingan yang semakin keras dan masalah identitas yang kerap dialami karena perkembangan media sosial, membuat gaya hidup generasi saat ini juga semakin berubah. Setidaknya ada tiga gaya hidup yang dilakukan generasi saat ini, yang dijuluki sebagai generasi O alias Overworked, Overeating, dan Overewhelmed. Apa saja itu?

1. Terlalu kerja keras (overworked)
“Misalnya, lihat pasangan lain di media sosial, lagi jalan-jalan ke Maldives. Jadi ingin liburan ke sana juga biar bisa mencapai relationship goal. Usaha keras biar liburan ke luar negeri, karena butuh uang, akhirnya kerja keras,” ceritanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, pola kerja pun berubah, yang akhirnya mengambil semua pekerjaan supaya bisa mencukupi gaya hidupnya. Bahkan, menurut survei Sun Life Financial Indonesia Health Index 2016 menemukan hampir 34% peserta mengaku tidur kurang dari 6 jam secara rutin.

2. Terlalu banyak makan (overeating)
“Kalau sudah kerja keras, suka lembur. Malam-malam inginnya makan, akhirnya pola makan juga tidak diperhatikan,” lanjutnya. Kondisi ini membuat mereka tidak lagi memilih makanan yang baik dan mengonsumsi apa saja, termasuk makanan siap saji.

3. Terlalu lelah (overwhelmed)
“Kebanyakan kerja keras akhirnya kelelahan, jadinya overhelmed,” tutupnya. Bekerja hingga larut bisa membuat kesehatan mental dan fisik ikut terganggu. Mereka jarang bergerak dan lebih fokus berada di depan gawai ketimbang berolahraga. Bahkan, menurut survei Sun Life Financial Indonesia Health Index 2016 menemukan hampir 54% tidak olahraga rutin dan 34% peserta mengaku tidur kurang dari 6 jam secara rutin. Akhirnya, mereka jadi mudah stres dan lelah.

Untuk itulah, menjalankan pola hidup sehat sangat penting untuk kehidupan yang lebih baik. Jadi, apakah Anda termasuk generasi O atau sudah menjalankan pola hidup sehat?

 

https://womantalk.com/health/articles/awas-ini-gaya-hidup-tidak-sehat-di-kalangan-generasi-o-DKlzl